Kembali kepada Kasih yang Semula


Img

Tuntunan Doa Pagi GBI DM – Pdt. Alex Leo 11 Maret 2017

Ada 2 kata semula yang tertulis dalam Wahyu 2:1-7:

  1. Ayat 4Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
  2. Ayat 5Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.

 

Kata “semula” dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani “PRÓTOS”, yang memiliki definisi/arti the first in time, the first in place, the first in rank, the first in order, the first in importance (menempati urutan pertama dalam waktu, dalam tempat/posisi, dalam ranking, dalam urutan, dalam kepentingan)

Berarti kata semula atau “PRÓTOS” ini berbicara tentang PRIORITAS YANG TERUTAMA!

Jadi maksud Tuhan dengan mengatakan “kamu telah meninggalkan kasihmu yang semula,” berbicara tentang kasih yang memberikan Yesus sebagai prioritas yang utama, mengasihi Yesus sebagai prioritas yang utama dalam hidup kita. Jika kita lihat pada bagian lain dari Alkitab, Tuhan sesungguhnya memang menghendaki dan menuntut akan hal ini. Saat Yesus memulihkan Petrus yang saat itu begitu putus asa, begitu menyesali kehidupannya karena dia sudah menyangkali Yesus 3x, dalam Yohanes 21:15 Yesus berkata kepada Petrus – “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Dalam versi bahasa Inggrisnya lebih jelas (NIV) – “Simon son of John, do you truly love Me more than these?” (apakah kamu mengasihi Aku lebih dari semuanya ini?) – “PRÓTOS”.

Yang kedua, waktu Yesus berjumpa dengan seorang anak muda yang kaya yang bertanya bagaimana caranya untuk bisa masuk kerajaan sorga. Yesus menjawab lakukan hal ini dan ini, dan berkata pula, jika ingin sempurna, pulanglah dan juallah seluruh hartamu, bagikan kepada orang miskin, lalu datanglah kembali kepada-Ku dan ikutlah Aku.

Ini “PRÓTOS” – artinya rela meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus. Kasih yang seperti ini yang Tuhan minta karena Tuhan mengasihi kita dengan cara yang sama. Semua yang Dia miliki, Dia berikan kepada kita. Dia korbankan hal terbaik yang Dia miliki yaitu Anak-Nya sendiri yang tunggal. Yesus rela menderita sedemikian rupa demi kita, dan karenanya Tuhan mengharapkan kita meresponi “PRÓTOS” dengan “PRÓTOS”.

Kata semula yang kedua – lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Berbicara waktu kita mengasihi Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita, maka ada perbuatan-perbuatan/pekerjaan-pekerjaan yang merupakan manifestasi  dari kasih kita kepada Tuhan sebagai yang terutama. Waktu kita mencintai Yesus sebagai prioritas yang terutama di dalam hidup kita maka ada hal-hal yang tidak biasa yang kita lakukan sebagai manifestasi dari “PRÓTOS”.

Manifestasi wujud kasih setiap orang masing-masing berbeda-beda. Ada orang yang begitu mengasihi Yesus dengan bernyala-nyala, bisa seperti keranjingan baca Alkitab. Ada yang sepertinya tidak pernah puas dengan ibadah. Ada yang tidak puas menyembah Tuhan. Ada juga yang karena “PRÓTOS” kepada Yesus, bersaksi dimana-mana tanpa rasa takut/malu. Ada yang karena bergitu mengasihi Tuhan begitu rupa, tidak pernah hitung-hitungan dengan uang. Selalu rindu berikan persembahan yang terbaik bagi Tuhan. Ada yang begitu aktif terlibat dalam pelayanan sebagai wujud kasihnya kepada Tuhan. Tapi seiring berjalannya waktu, fokus kita mulai berubah, fokus kita mulai beralih kepada karir. Yang umum terjadi, biasanya ketika seseorang begitu bernyala-nyala dan bergairah dengan Tuhan, kemudian mulai mengalami lonjakan berkat secara materi. Karenanya, hal ini juga menjadi jebakan. Seringkali tanpa disadari fokusnya mulai beralih dan membuat “PRÓTOS” menjadi pudar/hilang. Masih cinta Yesus, tapi tidak lagi sebagai yang terutama. Entah sudah menjadi urutan yang keberapa.

Waktu hal ini terjadi, secara manusia mungkin saja seperti halnya jemaat di kota Efesus ini, kita masih sibuk pelayanan, masih banyak lakukan aktifitas rohani tetapi sudah berubah dari pelayanan menjadi pekerjaan.

Contoh: Seorang ibu yang memiliki anak usia SD/SMP yang demi cinta kepada anaknya dan juga karena memiliki kemampuan, dia memilih untuk  meluangkan waktu setiap hari dan membantu anaknya dalam pekerjaan-pekerjaan sekolah. Yang ibu ini lakukan adalah pelayanan karena didasari oleh cinta.

Contoh yang lain, seorang ibu yang karena kondisi perekonomian keluarganya pas-pasan, memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan dengan menerima murid dan mengajar di rumahnya. Dia mengajar karena tugas, orang tua dari si anak murid sudah membayar untuk jasanya dan dia terikat oleh pekerjaan.

Jika kita bandingkan maka kita akan lihat hal yang sama – seorang ibu yang mengajarkan anak. Tapi hatinya beda. Yang 1 pelayanan, yang 1 pekerjaan. Waktu kasih yang semula itu pudar/hilang, maka yang tadinya kita datang ke gereja dan melayani di gereja karena mencintai Tuhan, kita mulai berubah. Masih tetap datang ke gereja dan melayani tapi karena tugas. Karena sudah terikat oleh komitmen. Wujudnya sama tapi motivasi hati beda!

Waktu kita ada dalam keadaan seperti ini, pelayanan jadi terasa berat. Lalu kita mulai katakan gereja terlalu banyak aturan. KOMITMEN mulai menjadi ATURAN. Padahal sama seperti pernikahan. Kalau kita menikah karena cinta, kita memberi diri dan yang secara sukarela mengikatkan diri kepada komitmen pernikahan. Kita sendiri yang mau meng-komitmen-kan diri. Kalau kemudian kita anggap di gereja banyak aturan, apakah di rumah kita tidak ada aturan?

Kita bisa memadang Alkitab dengan 2 cara:

  1. Kita bisa pandang sebagai surat cinta Bapa di sorga kepada kita.
  2. Kita bisa pandang sebagai seperangkat peraturan yang menyebalkan.

Bukankah di dalam Alkitab tertulis begitu banyak aturan-aturan? Tapi aturan itu dibuat karena Bapa mengasihi kita.

Jadi bagaimana kita memandang tergantung sikap hati kita dan kadar cinta kita kepada Tuhan.

Waktu kita sedang bernyala-nyala, dengan penuh kesediaan kita lakukan. Waktu cinta itu berkurang, apa yang dulu kita sukai, sekarang jadi beban. Waktu roh kita padam, kita bisa bersungut-sungut. Hal yang sama, bisa jadi sangat berbeda tergantung kadar cinta kita kepada Tuhan. Ini perkara yang sangat serius, karena Yesus berkata kalau kita tidak bertobat, maka Dia akan datang dan mengambil kaki dian kita. Dan ini fatal, ini berbicara sesuatu yang sangat serius. Menurut beberapa penafsiran, kaki dian yang diambil berbicara Tuhan ambil Roh Kudus-Nya dari hidup kita.

Jaminan keselamatan kita adalah ROH KUDUS. Kita ditebus oleh darah Yesus, seluruh dosa kita dihapus. Kalau saat itu kita langsung meninggal dunia, 100% kita pasti selamat. Tapi bagi kita yang tidak langsung meninggal dunia saat menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita masih harus menjalani hidup dan perlu menjaga keselamatan. Materai keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita adalah Roh Kudus, Roh Allah yang ada di dalam hidup kita sejak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Roh Kudus inilah yang menjaga keselamatan kita. Waktu kita lakukan dosa, Dia yang mengingatkan dan menegur kita, dengan halus Dia sadarkan kita, Dia tuntun kita. Tapi kalau terus menerus diingatkan dan kita terus abaikan, kita mendukakan Roh Kudus. Waktu kita terus menerus mendukakan Roh Kudus, Dia akan meninggalkan kita. Sekalipun kita masih sibuk pelayanan, masih jadi hamba/pelayan Tuhan, jika Roh Kudus meninggalkan kita maka keselamatan kita bisa hilang, karena jaminan keselamatan kita adalah Roh Kudus, Roh Tuhan yang diberikan kepada kita.

Inilah pesan Tuhan kepada gereja kitmujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

a bahkan kepada gereja-gereja di akhir jaman ini. Seringkali tanpa disadari, kita merasa karena sudah pelayanan, sudah pegang jabatan yang tinggi di gereja lalu berpikir kita pasti selamat. Jangan pernah lupa ada ayat Matius 7:21-23Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak

Jangan pernah lupakan, pada hari terakhir nanti ADA BANYAK ORANG yang berkata..., dan kata “BANYAK” ini mengerikan. Tapi Yesus katakan ada banyak dan Dia menjawab AKU TIDAK PERNAH MENGENAL KAMU! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! [JC]